Rabu, 16 Mei 2012

PENALARAN

Dalam menyimpulkan sesuatu, kita dapat menggunakan daya nalar secara logis dan sistematis. Dari proses pengambilan simpulan itu, penalaran dapat dibedakan atas penalaran induktif atau deduktif.

A. Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah proses penalaran yang bertolak dari peristiwa-peristiwa yang sifatnya khusus menuju pernyataan atau simpulan umum. Penalaran induktif meliputi:

1. Generalisasi: proses penalaran yangbertolak dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati atau ditarik simpulan umum tentang sebagian atau seluruh gelaja yang diamati itu. Jadi, generalisasi merupakan pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik, yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus penjelasan lebih lanjut.
Contoh:
Pemerintah mendirikan sekolah sampai ke pelosok. Puskesmas didirikan di mana-mana. Lapangan kerja baru diciptakan. Pembangunan rumah ibadah diperbanyak atau dibantu pemerintah. Memang menjadi tugas pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
2. Analogi: proses penalaran yang berdasar pada pembagian dan terhadap sejumlah gejala khusus yang memiliki kesamaan, kemudian ditentukan sebuah simpulan.
Contoh:
Secara tak sengaja Amara mengetahui bahwa pensil Steadler 2B menghasilkan gambar vignet yang memuaskan hatinya. Pensil itu sangat lunak dan menghasilkan garis-garis hitam dan tebal. Maka selama bertahun-tahun ia selalu menggunakan pensil itu untuk membuat vignet. Tetapi ketika ia berlibur ke rumah nenek di sebuah kota kecamatan, ia kehabisan pensil. Ia mencari pensil 2B di toko-toko kota itu tetapi tidak menemukannya. Akhirnya daripada tidak dapat mencorat-coret, ia memilih merk lain yang sama lunaknya dengan Steadler 2B. "Ini tentu akan menghasilkan vignet yang bagus juga," ucapnya.
3. Sebab Akibat: proses penalaran yang dimulai dengan menggunakan fakta beruba sebab dan sampai pada simpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya.
Contoh:
Bangsa Jepang suka berkelompok. Selalu mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan perorangan. Dengan demikian antara kepentingan perorangan dan kepentingan bersama berjalab serasi. Oleh karena itu, untuk melakukan sesuatu secara bersama, secara terkoordinasi.

B. Penalarang Deduktif
Penalaran deduktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum menuju pada pernyatan atau simpulan khusus. Menarik simpulan dengan penalaran deduktif dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Menyimpulkan berdasarkan satu premis.
Contoh:
Premis: Bujur sangkar adalah segi empat sama sisi
Simpulan:
a. Bujur sangkar pasti segi empat, tetapi segi empat belum tentu bujur sangkar.
b. Segi empat yang sisi-sisi horizontalnya tidak sama dengan sisi tegak lurusnya bukan bujur sangkar.
Premis adalah pernyataan yang mendasari penalaran untuk menyimpulkan.
2. Menyimpulkan berdasarkan dua premis atau lebih. Dalam hal ini digunakan penalaran silogisme.
a. Silogisme kategorial
Premis umum, premis khusus, simpulan.
Contoh:
PU: Semua dokter itu pintar.
PK: Siska seorang dokter.
K: Siska itu pintar.
Silogisme yang diperpendek disebut entimen.
Contoh: Siska itu pintar karena ia seorang dokter.
b. Silogisme Alternatif
PU: Kegagalab panen daerah itu selalu disebabkan oleh banjir atau serangan hama.
PK: Tahun ini kegagalan panen daerah itu tidak disebabkan oleh banjir.
K: Kegagalan panen daerah itu disebabkan oleh serangan hama.
c. Silogimse Hipotesis
PU: Jika hari ini tidak hujan, saya datang ke rumahmu.
PK: Hari ini hujan
K: Saya tidak datang ke rumahmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar