Kamis, 17 Mei 2012

KUTIPAN

Kutipan adalah pengambilan satu kalimat atau lebih dari karya tulisan lain untuk tujuan ilustrasi atau memperkuat argumen dalam tulisan sendiri. Kutipan sering digunakan dalam penulisan karya ilmiah, baik itu malakah, skripsi, tesis, disertasi, paper, atau artikel dan yang lainnya. Bahan-bahan yang dimasukkan sebagai kutipan adalah bahan yang tidak atau belum menjadi pengetahuan umum, hasil-hasil penelitian terbaru dan pendapat-pendapat seseorang yang tidak atau belum menjadi pendapat umum.
Jadi, pendapat pribadi tidak perlu dimasukkan sebagai kutipan.
Dalam mengutip seharusnya menyebut sumber kutipan tersebut. Hal itu dimaksudkan sebagai pernyataan penghormatan kepada orang yang pendapatnya dikutip, dan sebaga pembuktian akan kebenaran kutipan tersebut. Cara penyebutan sumber kutipan ada dua, yaitu sistem catatan kaki dan sistem catatan langsung (catatan perut). Pemilihan antara dua cara penyebutan sumber kutipan harus konsisten, jadi hanya salah satu yang dapat digunakan untuk keseluruhan kutipan.
Jenis kutipan:

A. Kutipan Langsung
Kutipan langsung ialah kutipan yang sama persis dengan teks aslinya, tidak boleh ada perubahan. Kalau ada hal yang dinilai salah atau meragukan, dapat diberi tanda (sic!), yang artinya sekedar mengutip sesuai dengan aslinya dan tidak bertanggung jawab atas kesalaha itu. Demikian juga kalau melakukan penyesuaian ejaan, memberi huruf kapital, dan garis bawah, atau huruf miring, sebaiknya perlu dijelaskan hal tersebut, misal: [huruf miring dari pengutip], [ejaan disesuaikan dengan EYD], dan lain-lain.
Jika dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah, lalu dibetulkan oleh pengutip, harus digunakan huruf siku [...].
1. Kutipan langsung yang kurang atau sama dengan 4 barus ditulis sebagai berikut:
a. Disatukan dengan teks
b. Ditulis dalam tanda kutip (".....")
c. Jarak antarkutipan 2 spasi
d. Pada akhir kutipan dituliskan data buku yang diletakkan dalam kurung dengan menuliskan nomor rujukan catatan kaki. 
Contoh:  
Penyebutan sumber dengan catatan kaki
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan. "...pengertian yang disampaikan-Nya [sic!] itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi." 1)
........................................................................................
1) Haadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985), hal. 4. 
Keterangan:
- Jika dalam mengutip ada bagian kalimat yang dihilangkan, bagian itu diganti dengan tanda titik tiga (...).
- Isi catatan kaki di atas adalah: nama pengarang, judul buku, kota tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit, halaman buku yang mencakup kalimat tersebut dikutip.
- Judul buku ditulis dengan garis bawah atau huruf miring.
  
Penyebutan sumber dengan catatan langsung atau catatan perut
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan. "...pengertian yang disampaikan-Nya [sic!] itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi." (Nawawi, 1985: 4)
..............................................
Keterangan:
- Hanya menuliskan nama belakang pengarang, tahun terbit, dan halaman kutipan didapat dalam buku tersebut.

2. Kutipan langsung yang lebih dari 4 baris, tata caranya sebagai berikut:
a. Tidak disatukan dengan teks, tetapi dijalin dengan jarak 2,5 spasi.
b. Ditulis dengan spasi rapat (satu spasi).
c. Ditulis menjorok ke kanan 5 karakter dan jika alinea baru berarti menjorok ke kanan 10 karakter.
d. Boleh diapit tanda kutip boleh juga tidak.
e. Pada akhir kutipan diberi nomor penunjuk (untuk diberi penjelasan pada catatan kaki, atau diberi catatan langsung (catatan perut).
Contoh:
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan. 

"...pengertian yang disampaikan-Nya [sic!] itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi. Dengan kata lain bahwa sesuatu yang disampaikan itu halnya memang demikian, tidak mungkin lain. Kebenaran itu merupakan kebenaran mutlak.... " 1)

..............................................................
1) Haadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985), hal. 4.

B. Kutipan Tidak Langsung (Kutipan Isi)
Dalam kutipan tidak langsung, hanya mengambil intisari pendapat yang dikutip. Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang dibuat dan tidak perlu diapit tanda petik. Penyebutan sumber dibuat dengan sistem catatan kaki dan dapat juga dengan catatan langsung (catatan perut).
Contoh:
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir manusia. Oleh karena itu, memerlukan kebenaran wahyu Tuhan. Kebenaran itu harus bersifat mutlak dan sebagai manusia kita harus meyakininya (Nawawi, 1985: 4) 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar